Kepercayaan diri, Keterampilan, dan Peran Seorang Tour Leader

Overview : Tulisan ini berfokus pada peran dan keterampilan yang dibutuhkan untuk para pemimpin perjalanan wisata (Tour Leader) dan Pemandu Wisata menekankan pentingnya kepercayaan diri (self-confidence), keterampilan kepemimpinan (leadership skill), dan kemampuan bercerita (story telling). 

Saya menulis pengalaman dan wawasan dalam blog ini untuk memberikan layanan terbaik di industri pariwisata, termasuk kebutuhan akan pengetahuan yang luas, keterampilan komunikasi yang efektif, kemampuan beradaptasi, dan sensitivitas budaya. Tulisan ini juga membahas sifat pariwisata yang berkembang, pentingnya menciptakan pengalaman yang mengesankan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk para pemimpin tur (TL) dan pemandu wisata internasional.

Pernahkah teman-teman berfikir tentang sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pelayanan sebagai seorang Tour Leader di era modern ini ? lalu, apa saja yang akan dibutuhkan ? Keahlian ? Pengetahuan ? Sikap ? 

Sebelum membahas terlalu dalam, teman-teman harus memahami arti dan definisi dari "tour leader".

Tour Leader adalah seorang profesional yang bertanggung jawab memimpin dan mengelola kelompok wisatawan selama perjalanan wisata berlangsung.

Peran utamanya adalah sebagai berikut :

1. Mengelola logistik tour seperti ; jadwal, transportasi, akomodasi, restaurant, dll.

2. Memberikan informasi atau gambaran singkat tentang tujuan wisata yang akan dikunjungi'

3. Memastikan kenyamanan dan keselamatan wisatan selama kegiatan berlangsung


Lalu, jika kita berbicara tentang kepercayaan diri seorang TL itu berada dimana ? 

yaitu berada dalam beberapa aspek yaitu : personal branding, multi talent, dan multi tasking yang artinya mampu memiliki keterampilan dalam mempromosikan dirinya atau memperkenalkan dirinya kepada khalayak banyak orang bahwasannya dia adalah seseorang dengan identitas sebagai tour leader. Sedangkan multi talent dan multi tasking adalah sebuah keterampilan penunjang seperti bisa mencarikan sesuatu informasi ataupun objek dengan menarik, lalu bisa mendokumentasikan kegiatan sekreatif mungkin, hingga mengatur segala kebutuhan logistik selama kegiatan tour berlangsung.


LEADERSHIP SKILL

Mengapa leadership ini sangat dibutuhkan oleh seorang tour leader ? 

karena leadership adalah sebuah sikap dan kemampuan dalam membina, membimbing, serta megarahkan rombongan/massa (Controlling) agar tetap dalam kendali dan kegiatan tour dapat berlangsung dengan semestinya. Bilamana kita tidak memiliki sifat maupun sikap kepemimpinan, maka yang terjadi adalah peserta atau rombongan wisatawan akan berbuat/bersikap semaunya sendiri karena mereka menilai kita bukan sebagai tour leader. Maka daripada itu, sikap kepemimpinan dapat dimulai dari bagaimana cara kita berkomunikasi di awal pertemuan seperti; greeting, introduction, hingga memberikan sedikit informasi yang menarik tentang obyek atau destinasi wisata yang akan dikunjungi.

Selain contoh sikap dan sifat pemimpin seperti komunikasi, ada juga yang lain yaitu kedisiplinan. sebagai contoh bilamana kita meng-handle group dan kita menginap disebuah hotel, alangkah baiknya kita berinisiatif bangun lebih awal untuk memastikan layanan sarapan sudah siap dan kita menyambut tamu dari rombongan kita dengan sikap yang ramah serta hangat.


STORY TELLING

Kemampuan bercerita tentang sesuatu informasi ataupun fakta menarik tidak hanya disampaikan seorang tour guide saja, namun seorang tour leader juga harus mampu melakukannya sebagai sarana singkat memberikan informasi tentang obyek wisata yang akan dikunjungi walaupun cara penyampaiannya tidak se-detail tour guide bercerita. Misalnya, kita bisa bercerita tentant fakta unik secara singkat tentang Candi Prambanan, informasi dimana kita bisa menikmati makanan khas (kuliner) suatu daerah, menginformasikan durasi/lama kunjungungan di suatu tempat wisata, hingga memberikan perhatian seperti mengingatkan barang bawaan pribadi agar tidak hilang atau tertinggal di suatu tempat.

kemampuan berkomunikasi sangat mutlak dibutuhkan sebagai sarana saling bertukar informasi penting, diantaranya kemampuan berbahasa dan berbicara menggunakan bahasa Inggris (sebagai sarana komunikasi standar internasional).

INTER-CULTURAL INTERACTION

Dalam kemampuan intercultural interaction atau komunikasi dengan budaya yang berbeda, seorang TL maupun Guide harus memiliki 'art of diplomacy'. apakah itu ? yaitu keterampilan dalam berkomunikasi dengan wisatawan dari latar belakang yang berbeda. Misalnya, wisatawan dari Amerika Serikat dan Eropa tentu berbeda karakteristik dan budayanya. Kita harus pandai-pandai menyampaikan sesuatu sebelum kemungkinan buruk seperti keluhan atau masalah terjadi antara wisatawan dengan lingkungan lokal dalam artian local people yang selalu menganggap bahwasannya wisatawan asing adalah orang yang bisa disentuh-sentuh ataupun diajak bercelometan karena dianggap unik dan mudah untuk diajak interaksi, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Kesimpulannya adalah menjembatani wisatawan dengan local people karena perbedaan budaya yang sangat kontras

Study Kasus :

Saya pernah meng-handle sekelompok wisatawan asing dari Jerman sejumlah 12 pax. penjemputan berada di port Tanjung Perak dengan lama durasi kunjungan city tour 2 hari. di hari pertama rutenya adalah mengunjungi; Walking Tour di jalan Rajawali (Kota Lama Surabaya), Kampung Lawas Maspati, Kawasan Religi Sunan Ampel, dan Check-in di Hotel Majapahit. padas saat tiba waktu kunjungan ke kawasan religi Sunan Ampel, nampak bahasannya para wisatawan ini banyak yang mengenakan busana yang minimalis, maka sebelum tiba di lokasi wisata saya sampaikan informasi dalam bahasa Inggris sebagai berikut : "Well ladies and gentlemen's, now we are is ready to going to Sunan Ampel religious area. It means is holy place for moslem and public, so I prefer to all of you, did you mind if are of you use the complete clothes ? if you not okay, we will skiped for this trip for Sunan Ampel". Lalu response mereka adalah, mereka sepakat untuk mengikuti aturan ketika waktu kunjungan ke wisata religi Sunan Ampel dan lanjut menuju hotel Majapahit untuk check-in dan beristirahat.

yang ke-dua, yaitu ketika saya berkunjung dengan rombongan wisatawan dari negara Italia menuju kampung pesisir atau nelayan di daerah Pasuruan. Kita mengetahui bahwa kualitas SDM warga setempat, mohon maaf 'kurang' dan berasal dari kelompok menengah kebawah. nah, kejadian saat itu adalah sekelompok warga lokal melakukan tindakan seperti menggoda anak bule dengan mecubit pipinya sehingga membuat anakl tersebut menangis ketakutan karena over physical touch oleh warga setempat yang cukup sembrono. Pada akhirnya kami bertindak sebagai Tour Leader rombongan tersebut menenangkan si Bule agar tidak terprovokasi emosi akibat perilaku warga setempat yang terkesan kurang etis, dan kami pun memberikan pemahaman kepada penduduk setempat agar tidak melakukan perbuatan tersebut dikemudian hari agar wisatawan asing merasa aman dan nyaman ketika mereka berkunjung ke kampung tersebut untuk berwisata dan menikmati khazanah lokal yang ada disama.


Komentar